sains

sains adalah pelajaran yang berhubungan dengan penguasaan ilmu alam

Sabtu, 03 April 2010

makalah biologi


Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Strigiformes
Famili : Strigidae
Genus : Tyto
Spesies : Tyto alba


. Cara Pengawetan

Bahan-bahan :

a.Air Masak : 1,5 gelas
b.Arsencium : 325 gram
c.Potas : 125 gram
d.Kapur Barus : 50 Gram
e. Natrium : (diukur) 320 Gram
f. Formalin

Cara Membuatnya :
1.Bahan No.a,b dan c dipanaskan dan diaduk sampai rata.
2.Bahan No.d,e,dan f dicampur dengan larutan No.1 sampai betul-betul rata.
3.ambil burung yang akan diawetkan,semua isi rongga perut/dada dibuang.
4.Masukkan obat tersebut ke seluruh kulit bagian dalam.
5.Kemudian dijemur di bawah terik matahari.Pada waktu hampir kering diatur dulu posisi burung sampai dianggap baik,kemudian dijemur lagi sampai benar- benar kering.

Keterangan :
Bahan-bahan di atas bisa didapatkan di apotik.Di samping burung juga dapat digunakan untuk hewan-hewan lain seperti : ular,tupai,musang dan lain-lain.


D. Habitat

Serak jawa (Tyto Alba) yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl. Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar.

Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah. Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya.

Serak jawa (Tyto Alba) memangsa aneka serangga malam, seperti ngengat dan belalang; kodok; dan juga burung kecil.

Telur sekitar 2-3 butir, putih, hampir bulat; diletakkan dalam sarangnya di lubang pohon, di sela pelepah kelapa, atau di rumpun bambu. Di Jawa Barat berbiak antara Februari sampai Juni, di Jawa Tengah antara Nopember sampai Januari.

Serak jawa (Tyto Alba) menyebar luas di Asia Tenggara, Filipina, Kalimantan, Sumatra, Jawa dan Bali.

E. Ciri-ciri Morfologi

. Berukuran besar (34cm), mudah dikenali sebagai burung habtu putih. Muka putih berbentuk hati dan lebar. Tubuh bagian atas kuning bertanda merata, tubuh bagian bawah putih dengan bintik-bintik hitam keseluruhan. Warna umumnya bervariasi. Remaja kuning lebih gelap. Iris coklat, paruh dan kaki kuning lebih kotor.
Bulu lembut, berwarna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung. Bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam, atau tidak ada. Bulu pada kaki jarang-jarang. Kepala besar, kekar dan membulat. Wajah berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan, merupakan ciri yang mudah dikenali. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan. Kaki warna putih kekuningan sampai kecoklatan. Jantan-betina hampir sama dalam ukuran dan warna meski betina seringkali lebih besar 25%. Betina dan hewan muda umumnya punya bercak lebih rapat.

Sepanjang hari istirahat di dalam lubang gelap di pohon, rumah, gua, atau vegetasi rapat. Muncul senja hari melewati daerah terbuka. Terbang umumnya berteriak dengan kepakan tanpa suara.

Makanan: tikus, kelelawar, katak, reptil, serangga besar. Bersarang pada lubang pohon atau rumah.

Kebanyakan Burung Hantu aktif saat senja dan subuh (nokturnal). Menghabiskan siang hari bertengger dengan tenang. Umumnya mereka bertengger sendiri atau berpasangan, tapi dapat juga berkelompok saat diluar musim berbiak (kelompok Burung Hantu disebut dengan parlemen).
Aktivitas harian Burung Hantu dimulai dengan membersihkan, menggeliat, menguap dan menggaruk kepala dengan cakarnya. Bulu-bulu seringkali disisir dan sayap dibersihkan dengan kaki atau paruh. Burung hantu kemudian meninggalkan tempat bertengger, kadang dengan bersuara (khususnya saat musim berbiak).

Burung Hantu mempunyai bahasa tubuh yang sangat ekspresif. Kebanyakan jenis akan memutar-mutar kepalanya jika penasaran dengan sesuatu. Hal ini merupakan bukti tentang kemampuan mereka dalam kemampuan memandang 3 dimensi.

Saat kondisinya santai, bulu-bulunya menjadi kendur dan mengembang. Jika seekor burung menjadi gelisah, maka akan nampak lebih langsing, bulu-bulunya ditarik merapat ketubuh, dan yang mempunyai bulu telinga akan ditegakkan. Burung Hantu Kerdil akan mengangkat dan menggoyang ekor kesamping jika merasa gelisah atau terkejut. Burung Hantu Kecil akan menggoyang tubuh keatas dan kebawah jika gelisah.

Saat melindungi anak atau dirinya sendiri, burung ini akan menunjukkan pose menyerang atau bertahan, dengan bulu dikembangkan untuk memperbesar penampakan ukuran. Kepala direndahkan, dan sayap dibentangkan kearah bawah. Beberapa jenis menjadi agresif saat bersarang dan dapat menyerang manusia.
Telur berwarna putih,jumlah3-4butir.Berbiak di musim penghujan.

Karakter Warna dan Pola Bulu Tyto alba
Secara umum, pola dan warna kriptik Burung Hantu memungkinkan untuk menyatu dengan keadaaan sekitarnya, untuk bersembunyi dari potensi bahaya. Hal ini khususnya penting bagi burung nokturnal, karena mereka perlu tetap bersembunyi saat bertengger di siang hari.
Saat terancam, seekor burung seringkali menunjukkan pose melindungi, dengan mata tertutup, bulu telinga terangkat, dan bulu yang merapat.




Bulu telinga tidak ada kaitannya dengan pendengaran, hanya berupa bulu tampilan saja, digunakan untuk menunjukkan suasan hati, seperti takut, marah dan terkejut. Ini juga membantu berkamuflase. Penting juga untuk dicatat meskipun burung dari satu jenis nampaknya mirip, namun tiap-tiap individunya memiliki sedikit perbedaan pola tanda.

Karakter Sayap dan Kemampuan Terbang Tyto alba
Kebanyak Burung Hantu memiliki sayap yang besar dan membulat. Sayapnya lebar, dengan luas permukaannya besar relatif terhadap bobot tubuh. Ini memungkinan mereka untuk terbang melayang dan dengan sedikit usaha, tanpa perlu banyak mengepakkan sayap dan kehilangan energi. Mereka dapat melayang dengan mudah dan terbang dengan pelan untuk periode waktu yang lama. Banyak jenis menggunakan terbang pelan ini untuk berburu mangsa permukaan daratan dari atas udara. Terbang senyap membuat burung mampu menangkap mangsa tanpa ketahuan, dan juga menggunakannya untuk menentukan mangsa potensial. Adaptasi ini tidak selalu dijumpai pada semua Burung Hantu, khususnya yang berburu di siang hari.



Karakter Bulu Tyto alba

Burung memiliki lima tipe bulu:

1. Bulu Kontur yang menutupi tubuh, sayap (remiges) dan ekor (retrices)
2. Bulu Bawah, bersifat lembut memerangkap udara dan membuat
lapisan insulator pada tubuh.
3. Semiplume, berfungsi mengisi antara bulu kontur dan bulu bawah.
4. Bristle, adalah bulu kecil dengan ceruk kaku dengan kait pada bagian
dasar atau tidak ada sama sekali. Bristle umumnya berada pada sekitar
dasar paruh, mata, dan kelopak.
5. Filoplume, bulu yang seperti rambut yang terdiri atas ceruk yang sangat halus,
dengan sedikit kait pendek diujungnya. Umumnya ditutupi oleh bulu
lain, sehingga dapat diatur dengan baik.

Burung Hantu memiliki sedikit bulu bawah, tapi punya kait pada bagian bulu kontur dekat dengan kulit. Kebanyakan bulu Burung Hantu memiliki desain khusus. Disekitar wajah terdapat bulu cakram wajah yang kaku (ruff), bulu mahkota, bulu penutup telinga, dan juga bulu sekitar paruh. Kaki memiliki tendril yang berbulu, yang berguna sebagai penutup, membantu burung bereaksi terhadap obyek yang ditangkap, misal mangsa.

Adaptasi paling unik dari bulu Burung Hantu adalah ujung bulu primer sayap, yang seperti sisir. Pada kondisi penerbangan normal, udara bergejolak dipermukaan sayap, menciptakan turbulensi, dan menimbulkan suara. Dengan model sayapnya, ujung bulu sayap bentuk sisir, mematahkan turbulensi menjadi mikroturbulen. Hal ini efektif untuk meredam suara gejolak udara dipermukaan sayap dan memungkinkan burung untuk terbang tanpa suara.




Karakter Sarang pada Tyto alba

Pada sudut pandang yang sempit, Burung Hantu tidak membangun sarang seperti burung penyanyi. Mereka merupakan pemakai sarang oportunis, menggunakan sarang yang sudah ada atau mengambil alih sarang yang ditinggalkan burung lain.

Burung Hantu yang berbiak dilahan terbuka seringkali bersarang ditanah. Burung Hantu Salju bersarang di lubang tanah, dimana betinanya akan menggali dan melapisi dengan material tanaman. Burung Hantu Telinga Pendek seringkali bersarang di rerumputan. Burung Hantu Telingan panjang dan Tawny bersarang di pohon. Lubang di pohon adalah tempat favorit untuk kebanyakan jenis.


Beberapa jenis, khususnya Tyto, mampu menempati tempat buatan manusia yang mirip dengan lubang pohon. Sarang Gagak dan burung pemangsa lain yang sudah ditinggalkan, juga merupakan tempat pilihan. Hanya sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memperbagus konstruksi pembuat sarang sebelumnya. Celah batuan juga digunakan oleh beberapa jenis burung.

Tyto alba berbiak setiap saat sepanjang tahun, tergantung suplai makanan. Pada tahun yang baik, dapat berbiak dua kali setahun. Ledakan hama tikus dapat menyebabkan populasi burung ini meningkat secara dramatis.

Selama percumbuan, jantan berputar sekitar pohong dekat sarang, sambil menyuarakan deritan dan koaran. Kebanyakan Tyto alba bersarang di lubang pohon sampai ketinggian 20 meter. Mereka juga dapat bersarang pada bangunan tua, gua, dan ceruk sumur.

Stuktur Anatomi
Anatomi Kaki dan Cakar Tyto alba



Kaki Burung Hantu memiliki empat jari. Saat terbang, tiga jari mengarah kedepan dan satunya kebelakang. Saat hinggap, atau mencengkeram mangsa, bagian ujung jari tiap kaki akan melengkung kearah samping. Hal ini dimungkinkan karena adanya sendi yang fleksibel.
Cakar Burung Hantu sangat kuat, karena digunakan untuk menangkap mangsa. Struktur tulang kakinya pendek dan kuat, sama dengan tulang pada burung lain. Ini berguna sebagai penahan dari tekanan mangsa. Saat menyerang mangsa, cakarnya direntangkan lebar untuk memperbesar peluang keberhasilan serangan.
Panjang, ketebalan dan warna cakar sangat beragam antar jenis Burung Hantu, tapi semua mempunyai cakar yang sangat tajam. Warnanya berkisar dari hampir hitam, kelabu, sampai kuning gading.
Bagian bawah kaki ditutupi oleh permukaan kasar yang membantu menahan mangsa atau bertengger. Tyto alba juga memiliki gurat-gurat dibagian bawah jari tengah untuk membantu menahan mangsa dan juga untuk grooming.
Seperti halnya burung pemangsa lainnya, Burung Hantu memiliki mekanisme penguncian di kakinya yang menjaga supaya jarinya terkunci pada tenggeran atau mangsa, tanpa memerlukan kontraksi otot.
Pada beberapa jenis Burung Hantu, diketahui bahwa kaki ikut membantu menjaga suhu tubuh. Kelebihan suhu tubuh dipancarkan melalui dasar kaki, yang memiliki pembuluh darah ekstra.

Label:

1 Komentar:

Pada 4 November 2010 00.59 , Blogger handout mengatakan...

thanks for your share..
succes for you..
you can visit me in.
click this

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda